May 24, 2016

Pedoman Beribadah Puasa Ramadhan Dengan Aman Untuk Penderita Diabetes



panduan beribadah puasa ramadhan
Pedoman Beribadah Puasa Ramadhan
Sumber Gambar : ucengs.blogspot.com

Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan berkah, bulan yang penuh dengan ampunan dan pahala yang nilainya luar biasa besar. Oleh karena itu setiap muslim tentu akan menunggu bulan ini datang dalam kehidupan mereka, tak terkecuali mereka yang mengidap diabetes.


Nah, bertepatan dengan itu maka saya membuat artikel mengenai persiapan penderita diabetes dalam menghadapi bulan puasa, agar ibadah mereka dapat berjalan dengan lancar.  Pedoman ini langsung saya ambil dari web luar karena informasi yang saya dapatkan memang lebih detail dan lengkap. Dan, tanpa basa basi lagi mari simak artikel berikut ini.

The International Diabetes Federation (IDF) dan Diabetes and Ramadhan (DAR) telah merilis pedoman baru terkait bagaimana mengelola diabetes selama bulan suci Ramadhan. Karena kita mengetahui dari sejak fajar tiba hingga magrib menjelang seluruh muslim tidak makan dan minum. Apa yang harus dilakukan bagi penderita diabetes muslim agar tetap sehat selama bulan puasa Ramadhan?

Ramadhan tahun ini insya Allah dimulai pada tanggal 6 juni dan akan berakhir pada 5 juli. Namun kedepannya entah ada perbedaan waktu memulai puasa tidak menjadi permasalahan yang serius. Dan untuk saudara kita yang berada di belahan bumi sebelah utara akan mengalami puasa yang cukup panjang, yaitu 18-20 jam. Hal ini disebabkan pada bulan juni siang hari lebih lama dibandingkan pada malam hari.

Dan melihat kenyataan yang sering dijumpai adalah pada saat berbuka puasa kebanyakan dari seorang muslim memakan makanan besar. Hal tersebut berbanding terbalik ketika mereka sahur, mereka akan mekanan makanan dengan jumlah lebih sedikit, ditambah beberapa makanan ringan dan tambahan suplemen untuk menjaga kondisi tubuh saat berpuasa.

Kembali ke panjang durasi puasa saudara kita yang berada di belahan bumi bagian utara. Waktu 20 jam cukup lama dibandingkan dengan kita yang berpuasa di Indonesia yang berkisar hanya sekitar 13 jam saja. Apalagi ditambah dengan cuaca panas. Seseorang dapat dengan mudah terserang dehidrasi terkhusus mereka yang melakukan pekerjaan fisik.

Kondisi gula seseorang bisa lebih rendah dibandingkan pada saat ia tidak makan. Sebuah studi yang dihasilkan dari penelitian orang-orang diabetes yang berpuasa selama bulan Ramadhan bahwa resiko hipoglikemia meningkat sebesar 4,7 lipat pada penderita diabetes tipe 1, sedangkan untuk penderita diabetes tipe 2 sampai 7,5 kali lipat.

Puasa juga dapat meningkatkan resiko gula darah menjadi tinggi. Seorang peneliti bernama Erika Gebel Berg, PhD mengatakan bahwa pada saat berpuasa hati melepaskan glukosa untuk digunakan menjadi energi. Hal ini bisa disebabkan orang-orang berhenti untuk minum obat karena mereka berpikir obat tersebut dapat membuat kadar gula darah menjadi tinggi.

Dalam satu studi, peneliti menemukan bahwa seseorang dapat terkena hipoglikemia dengan tingkat 5 kali lipat untuk penderita diabetes tipe 2 dan peningkatan 3 kali lipat didapatkan pada mereka penderita diabetes tipe 1.

Ada beberapa ulama yang menekankan bahwa puasa tidak harus membahayakan kesehatan mereka yang memang menderita penyakit di dalam tubuh. Jadi mereka bisa tidak melaksanakan puasa karena dikhawatirkan akan membahayakan kesehatan tubuh. Namun, seorang mantan diabetes dan juga blogger yang bernama Maryam Elarbi ingin mengamati puasa untuk alasan spiritual.

Elarbi mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalan bulan yang penting baginya. Ia berkata, “Ini bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja. Pada bulan ini kita bisa meningkatkan nilai ketaqwaan di hadapan Allah Ta’ala dan bekerja untuk memperbaiki diri sendiri.”

Pedoman IDF-DAR baru, yang ditulis oleh dokter, peneliti, dan para pemuka agama mengatakan, “keputusan bahwa seseorang dapat berpuasa secara individu dapat dengan konsultasi dengan dokter, yang dimana mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit dan resiko yang akan terjadi nantinya.”

Salah satu bagian dari pedoman tersebut, menegaskan atau menggaris bawahi : “Sangat penting untuk memastikan bahwa mereka yang memang tidak berpuasa karena alasan medis dan mereka dihargai dan tidak harus merasa bersalah dengan tidak berpuasanya mereka.

Mereka harus menemui dokter atau ahli gizi untuk konsultasi dan membuat rencana gizi dan minum obat selama bulan puasa.

Pedoman awal yang dikembangkan oleh American Diabetes Association (ADA) dan disahkan oleh pemimpim agama muslim membagi pedoman ini membagi orang menjadi 4 kategori berdasarkan tingkat keparahan diabetes mereka. Namun pada pedoman baru ini kategori dibagi hanya 3 saja yaitu hijau, kuning, dan merah.

Merah adalah level tertinggi dengan tingkat resiko tinggi. Pada kategori ini seseorang disarankan untuk tidak berpuasa karena tingginya resiko yang nantinya akan dialami oleh penderita itu sendiri. Di dalam kategori ini terdapat orang-orang dengan sejarah hipoglikemia berat atau paling tidak mereka mengalami hipoglikemia dalam 3 bulan sebelum bulan Ramadhan, tipe 1 yang tidak terkontrol, komplikasi lanjutan, hipoglikemia dengan ketidaksadaran, dan mereka yang sudah berusia lanjut dan sakit.


Berikutnya adalah kuning, level lebih rendah dibandingkan dengan merah. Dalam kategori ini masuk orang-orang dengan kriteria kurang terkontrol diabetes tipe 2, diabetes tipe 1 yang terkontrol, wanita hamil yang memiliki diabetes tipe 2 atau diabetes gestasional, dan orang-orang dengna penyakit ginjal kronis. Mereka yang masuk dalam kategori ini disarankan untuk tidak berpuasa sesuai dengna pedoman baru IDF, namun pengecualian tetap ada bagi mereka yang ingin berpuasa.
Yang terakhir adalah hijau, resiko lebih rendah dibandingkan dengan kedua tanda tadi. Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah orang-orang dengan diabetes tipe 2 yang dimana kondisi mereka terkontrol dengan baik dan tidak mengambil obat atau hanya yang tidak berhubungan dengan gula darah rendah.

Nah, untuk mereka (diabetesi) yang tertap berpuasa, maka harus:
  • Bertemu dengan dokter sebulan sebelum berpuasa atau lebih baik jika lebih dari sebulan sekali. Dan mereka menerima pendidikan terkait diabetes secara terstruktur.
  • Memeriksa gula darah mereka secara rutin (dimana sebagaian muslim percaya untuk istirahat puasa)
  • Bergabung dengan tim diabetes. Agar dapat senantiasa bisa berkonsultasi
  • Merubah obat yang telah direkomendasikan oleh dokter mereka sebelumnya.
  • Jika dokter anda tidak beragama islam atau tidak akrab dengan Ramadhan, maka berikan informasi panduan IDF kepadanya. Ada sekitar 35 halaman mengenai jenis obat-obatan untuk diabetes
  • Ketika berbuka anda harus bersiap dengan kemungkinan resiko yang terjadi. Karena dalam beberapa kasus bisa terjadi kadar gula yang tinggi atau rendah setelah berbuka. Dan itu membutuhkan penanganan yang cepat. 
  • Pada saat buka puasa usahakan untuk memakan makanan yang mengandung karbohidrat dengan nilai glikemik rendah seperti sayur atau buah-buahan. Jangan terlalu banyak memakan makanan manis. Silahkan anda membaca pedoman IDF untuk rencana gizi selama berpuasa. Anda dapat mencarinya dengan bantuan google.
  • Tetap terhidrasi dengan baik antara saat berbuka hingga fajar nanti, hindari makanan manis dan kafein.
  • Olahraga berat tidak disarankan, namun jika yang ringan malah dianjurkan. Gerakan shalat pun dapat dihitung sebagai latihan fisik ringan.
Baca Juga : Tips memilih makanan bagi penderita diabetes 

Beberapa saran juga diberikan oleh saudara kita yang berprofesi sebagai seorang atlet muslim, berikut sarannya.
  • Jangan olahraga saat puasa, tetapi gantilah pada malam hari dimana anda dapat makan dan minum.
  •  Jangan terlalu dini untuk makan sahur. Lebih baik makan sahur saat mendekati waktu subuh sehingga mengurangi resiko hipoglikemia pada siang hari.
  •  Istirahatlah dengan cepat jika gula darah anda berada di bawah 70 mg /dl atau lebih dari 300 mg /dl, atau jika anda merasa sudah mengalami gejala hipoglikemia
Meskipun tidak terdapat dalam pedoman, nampaknya sangat dianjurkan untuk menghindari panas dan pekerjaan fisik sebisa mungkin. Jika hal tersebut tidak mungkin anda harus lebih ekstra hati-hati.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang spesial bagi seorang muslim. Maka kiranya kita dapat berupaya untuk dapat berpuasa, namun jika memang tidak memungkinkan maka tidak mengapa mengingat kondisi fisik seseorang berbeda. Semoga ibadah puasa nanti anda dan sekeluarga dapat menikmatinya dan Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk anda. Bagikan kepada rekan, keluarga, atau orang yang anda kenal agar manfaat ini dapat dirasakan oleh banyak orang. Sampai jumpa pada artikel berikutnya.