March 6, 2016

Apa Penyebab Gangguan Pankreas?


Penyebab Gangguan Organ Pankreas
Sumber Gambar : venasaphenamagna.blogspot.com

Untuk menangani permasalahan diabetes, biasanya diberikan obat yang berfungsi untuk mengeluarkan insulin agar dapat menurunkan kadar gula darah. Karena ketika kadar gula darah naik maka hal tersebut biasanya dikaitkan dengan kemampuan organ pankreas dalam menghasilkan insulin.


Namun, penyebab terjadinya penurunan kinerja organ pankreas hampir jarang diperhatikan oleh pasien diabetes. Alhasil, kadar gula hanya membaik dalam dua tahun pertama, selebihnya gula darah akan terus mengalami kenaikan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dokter spesialis penyakit dalam Dr dr Aris Wibudi SpPD KEMD CHT ABAARM dipl menjelaskan bahwa pengobatan diabetes yang biasanya dilakukan adalah pengobatan yang berfungsi untuk menurunkan kadar gula darah pada tubuh. Sehingga penggunaan obat-obatan lebih kepada penambahan insulin. Dan efeknya memang gula darah akan turun dalam waktu singkat.

Namun, sebuah penelitian yang dilakukan selama 20 tahun oleh UKPDS, dimana penelitian ini melibatkan ribuan orang membuktikan bahwa pemberian obat atau insulin dalam gula darah memberikan pengukuran HbA1c yang membaik selama  dua tahun pertama. Selanutnya kadar gula akan tetap naik. Oleh karena itu, penyakit diabetes dianggap sebagai penyait yang progresif.

Dr Aris mengatakan bahwa hal tersebut hanya berfokus pada pengobatan pankreas saja, padahal jika dianalogikan seperti genteng yang bocor saat musim hujan. Orang hanya akan senang menadahi kebocoran yang terjadi dengan ember agar airnya tidak jatuh ke lantai.


Hal tersebut sama persis seperti penderita diabetes yang mengalami peningkatan gula darah yang berulang. Padahal ketika gula darah naik maka penderita diabetes akan beresiko terkena gangguan pembuluh darah diseluruh anggota tubuh.

“Sebut saja kaki diabetes, gagal ginjal, jantung koroner, stroke, gangguan saraf, dan gangguan kerusakan pada organ mata. Apabila sudah terjadi gangguan maka dapat dipastikan tidak bisa dikembalikan kepada kondisi awal,” lanjut dr Aris/

Dr aris menegaskan bahwa sejatinya organ pankreas hanya menjadi korban dari berbagai gangguan yang ada di tubuh seperti gangguan fungsi di otot, liver, dan jaringan lemak. Penyangga metabolic atau biasa disebut otot bisa jelek kualitasna karena jarang digunakan (olahraga). Akiabatnya otot menjadi kecil. Padahal otot berperan dalam menyerap gula dan lemak yang akan digunakan sebagai energi. Ketika jarang bergerak, maka tubuh akan kelebihan energi. Padahal semuanya harus diubah menjadi glikogen. Saat otot tidak bekerja, maka energi akan dirubah menjadi lemak dan disimpan di rongga perut dan menjadi lemak fiseral.

Lemak di rongga perut

Menurut dr Aris, penumpukan lemak di rongga perut harus benar-benar diperhatikan. Sebab, lemak tersebut dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan atau sangat berbahaya dan dapat menghasilkan zat-zat perusak. Dari sekian banyak zat perusak yang diasilkan salah satunya yaitu TNF alpha (Tumor Necrosis Factor Alpha).  Inflasi peradangan tersebut berhubungan dengan peradangan kronik derajat rendah.

Secara fisik, peradangan tersebut tidak terlihat karena terjadi pada tigkat reseptor dan seluler. Akibatnya berdampak pada asam urat yang tinggi, trigliserida diatas 100 mg/dl, tingkat Hdl yang rendah atau kurang dari 35 mg/dl.

Mengenai hal tersebut, banyak orang yang mengeluh karena tidak bisa menghilangkan lemak yang ada di rongga perut padahal sudah melakukan olahraga. Menurut dr aris hal tersebut bisa disebabkan karena pemilihan olahraga yang tidak tepat.

Dr Aris melanjutkan pembahasannya mengenai olahraga yaitu olahraga yang tidak tepat malah akan menimbulkan kerusakan. Ia menyarankan agar berolahraga pada jam 3-5 sore. Dimana saat itu makanan sudah tidak ada diperut dan mulai diserap di usus. Kalau berolahraga dalam keadaan perut kenyang maka  bisa berakibat muntah. Mengingat tubuh masih berkonsentrasi  mencerna makanan di usus. Sehingga jangan dipaksa lagi untuk ke jantung dan otak.

“Untuk itu, paling tidak tunggulah paling tidak 1 jam untuk anda yang makan sedikit, bagi anda yang makan sampai kekenyangan maka diperlukan waktu 2 jam setelah itu baru boleh berolahraga,” lanjut dia.

Dr Aris melanjutkan bahwa sebaiknya latihan untuk mengurangi lemak di rongga perut dialkukan sebanyak 5 kali dalam seminggu. Untuk durasinya 30-45 menit, jangan sampai lebih dari 45 menit. Di samping itu juga, diwajibkan mempertahankan denyut nadi. Perhitungannya 220 dikurangi dengan umur kemudian dikali 0,65-0,67. Hal tersebut dilakukan secara perlahan.