March 26, 2016

Data Statistik Diabetes – Angka Yang Bisa Dipertanggung Jawabkan


Data Statistik Diabetes
Sumber Gambar : www.disparbud.jabarprov.go.id

International Diabetes Federation (IDF) adalah organisasi yang memayungi  lebih dari 200 asosiasi diabetes nasional di lebih dari 160 negara. Selain mempromosikan perawatan dan pencegahan diabetes, IDF melacak statistik diabetes dan penderita diabetes di seluruh dunia.


Federasi tersebut menerbitkan buku yang berjudul Diabetes Atlas, yang berisi koleksi dari data statistik dan komentar seputar diabetes yang dikeluarkan dari waktu ke waktu. Atlas ini didasarkan pada data yang diberikan oleh anggotanya. Karena ini adalah asosiasi nasional, fakta-fakta dan angka yang dipublikasikan oleh IDF dianggap cukup terpercaya.

Menurut edisi ke 6 dari IDF Diabetes Atlas, yang diterbitkan pada tahun 2013, total penduduk dunia adalah 7,2 miliar. Yang diharapkan telah meningkat menjadi 8,7 miliar pada tahun 2035, yaitu dalam waktu 22 tahun.

Total populasi yang disebutkan tersebut  termasuk 4,6 miliar orang dewasa dan ini telah diproyeksikan mencapai 5,9 miliar pada tahun 2035. IDF mendefinisikan orang dewasa adalah orang yang berusia 20-79 tahun, dimana usia tersebut paling mungkin rentang terkena  diabetes tipe 2.

Menurut Diabetes Atlas, 382.000.000 orang di seluruh dunia atau 8,3% dari 4,6 juta orang dewasa (20-79 tahun) diperkirakan menderita diabetes. Hampir setengah dari semua orang dewasa dengan diabetes berusia 40-59 tahun, usia yang paling rentang terkena. Disisi lain pada fase tersebut adalah fase yang paling produktif.

Di setiap negara jumlah orang yang menderita diabetes melitus tipe 2 meningkat setiap tahunnya. Jika hal ini terus berlanjut, IDF memprediksi bahwa akan ada lebih dari 592 juta penderita diabetes pada 2035, atau terjadi kenaikan sebesar 55%, atau bisa diproyeksikan bahwa 1 dari 10 orang dewasa terkena diabetes.

Yang tidak terdiagnosis dari Diabetes


Untuk diabetes tipe 2 dapat terdiagnosa karena memilki beberapa alasan, diantaranya gejala yang dapat diamati pada tahun-tahun awal terjangkitnya penyakit ini. Selain itu, komplikasi yang ditimbulkan juga cukup banyak, bahkan jika gejalanya memang ada bukan berarti diabetes menjadi penyebabnya penyakit lain dari komplikasi tersebut.

IDF menuliskan ada 382.000.000 penderita diabetes diseluruh dunia pada tahun 2013. Dimana 175 jutanya tidak terdiagnosis. Saya cukup terkejut ketika melihat bahwa 175 juta atau sekitar 46% openderita diabetes yang tidak terdiagnosa. Bagaimana kita bisa menghitung sesuatu yang tidak ada? Maksudnya angka 175 juta itu keluar dari mana karena awalnya tersirat tidak terdiagnosa. Berarti tidak ada bukti bahwa 175 juta orang tersebut terkena diabetes.

Untuk memperkirakan jumlah penderita diabetes yang tidak terdiagnosa, saya menemukan cara yang relatif mudah. Semua IDF harus menyusun tes dengan sampel orang yang tinggal di daerah tertentu. Tes yang dilakukan yaitu mengidentifikasi 2 kasus dari diabetes (diketahui ataupun sebaliknya). Dan itu merupakan latihan matematika sederhana untuk memperkirakan populasi secara keseluruhan dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Banyak (namun tidak semua) orang yang tahu bahwa mereka memiliki diabetes dan melakukan berbagai upaya untuk mengalahkan penyakitnya tersebut. Mengenai penderita diabetes yang tidak terdiagnosa adalah penderita diabetes yang tidak mampu mengatur kadar glukosa dalam darah mereka sehingga dapat menimbulkan komplikasi seperti penyakit gagal jantung, ginjal, retinopati dan neuropati tanpa sepengetahuan dirinya.

Perbedaan daerah


Diabetes Atlas menyediakan data statistik untuk 219 negara yang telah dikelompokkan menjadi 7 wilayah yaitu Afrika, Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara, Amerika Utara dan Karibia, Amerika Selatan dan Tengah, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat.

IDF memprekirakan 80% dari penderita diabetes tinggal di negara dengan penghasilan rendah dan menengah dimana penyakit tersebut dapat meningkat dengan cepat dan menyamar ke dalam setiap individu sehingag menjadi ancaman bagi pembangunan suatu negara. Prevalensi diabetes, bagaimapaun bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain begitupun antar negara. Hal ini menunjukkan bahwa pengelompokkan daerah yang dilakukan IDF membutuhkan revisi.

Sementara sekitar 8% dari populasi orang dewasa (usia 20-79) yang berada di daerah Pasifik Barat memiliki diabetes. Di negara-negara tertentu proporsi penderita diabetes jauh lebih tinggi dari angka di Pasifik Barat. Sebagai contoh, di Tokelau terdapat sekitar 37,5% orang dewasa yang menderita diabetes, sedangkan untuk negara Mikronesia adalah 35%.

Untuk di Timur Tengah dan Afrika Utara tercatat 11% orang dewasa menderita diabetes. Namun angka tersebut rata-rata untuk seluruh wilayah dan angka untuk negara-negara Teluk Arab memiliki angka yang jauh lebih tinggi hingga dua kali lipat yaitu 24% di Arab Saudi, 23,1% di Kuwait, dan 22,9% di Qatar.

Untuk daerah lain diabetes juga terdiagnosis bervariasi. Di beberapa seperti Sahara Afrika hingga 90% penderita diabetes tidak terdiagnosis. Hal tersebut karena kurangnya sumber daya dan prioritas. Sebaliknya, di negara-negara berpenghasilan tinggi hanya sekitar sepertiga orang-oragn dengan diabetes yang belum didiagnosis.

Di kebanyakan negara diabetes terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi yang pesat. Hal tersebut menyebabkan perubahan dalam diet, populasi penduduk dengan usia lanjut, urbanisasi, berkurangnya aktivitas fisik sehingga pelakunya tidak sehat. Banyak pemerintah yang tidak menyadari krisis yang tumbuh sehingga konsekuensi seriusnya adalah menghambat pembangunan negara itu sendiri.

Gangguan Toleransi Glukosa


IDF memperkirakan ada 316 juta orang atau 6,9% dari usia dewasa memiliki gangguan toleransi glukosa (IGT). Pada tahun 2035 angka ini diperkirakan mengalami lonjakan menjadi 417 juta atau 8% dari populasi dewasa di dunia.

Ini sangat serius, mengingat orang-orang dengan IGT atau pra-diabetes memiliki resiko yang cukup besar mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan dengan mereka yang tidak. IGT juga dapat mengakibatkan pelakunya mengalami penyakit kardiovaskular.

Mayoritas orang dewasa dengan IGT (sekitar 3,5% dari populasi orang dewasa di dunia) berada di bawah usia 50 tahun. Padahal usia tersebut adalah usia paling produktif bagi manusia. Dan karena itu menjadi resiko tinggi yang nantinya menjadi diabetes tipe 2 di kemudian hari. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan adalah hampir 1/3 dari semua orang yang memiliki IGT berusia 20-39 tahun. Hal ini bisa dibendung jika mereka mau merubah gaya hidupnya.

Dengan begitu jika angka tersebut ditambahkan , yaitu 382 juta orang yang memiliki diabetes dengan orang yang memiliki IGT yang menunjukkan angka 316 juta. Sehingga totalnya menjadi 698 juta atau dengan kata lain setara dengan 15% lebih dari seluruh penduduk dewasa(usia 20-79 tahun) di dunia memiliki diabetes atau menjadi pra-diabetes.

Sebagai perbandingan, sebanyak 33.400.000 orang di seluruh dunia terkena HIV / AIDS. Angka ini masih 1/20 dari angka seluruh penderita diabetes ataupun yang pra-diabetes. Ini sungguh suatu angka yang fantastis. Terlalu mencolok menurut saya dan dapat mengancam sistem kesehatan global.


Kematian


Opini yang diterima bahwa komplikasi akibat diabetes seperti penyakit kardiovaskular dan ginjal menjadi penyebab utama kematian di sebagian besar negara dunia.

Namun sangat sulit untuk mendapatkan angka yang benar terkait kematian tersebut. Karena yang pertamalebih dari 1/3 negara di belahan dunia manapun tidak menjaga data kematian yang diakibatkan komplikasi diabetes. Kemudian yang kedua, tidak ada rekaman statistik cek kesehatan rutin yang dilakukan oleh orang, hal ini dikarenakan akte kematian yang dibuat tidak mencantumkan diabetes sebagai penyebab kematian.

Untuk mengatasi masalah ini, IDF menggunakan pendekatan permodelan untuk memperkirakan jumlah kematian yang disebabkan diabetes dan tampaknya berhasil dengan beberapa perkiraan yang dianggap wajar.

IDF memperkirakan ada sekitar 5,1 juta (usia dewasa 20-79 tahun) kematian di dunia yang disebabkan oleh diabetes. Dan hampir setengah (48%) adalah orang-orang yang memiliki usia di bawah 60 tahun. Sehingga diabetes menjadi penyebab utama kematian dini.

Kematian yang disebabkan diabetes terus meningkat dan diperkirakan jumlahnya mengalami kenaikan sebesar 11% pada tahun 2013. Lalu bagaimana dengan tahun ini? Pastinya lebih banyak dari angka tersebut. Dan penyakit diabetes menjadi penyakit yang tren mengakibatkan kematian.

Biaya Kesehatan


Tidak ada obat untuk diabetes. Kecuali beberapa pihak yang mengklaim dapat menghilangkan penyakit diabetes dengan produknya. Benar atau tidak anda dapat melihat testimoni yang telah diberikan atas produk mereka.

Untuk alasan ini, penderita diabetes harus dengan tekun menjaga kesehatan. Dimana mereka tidak dapat mengontrol diabetes mereka melalui diet dan olahraga, maka mereka harus menempuh pengobatan biasa(suntik insulin ataupun minum obat). Hal itu bisa berakibat biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih mahal baik bagi penderita diabetes maupun keluarga mereka.

IDF memperkirakan pengeluaran kesehatan global diabetes setidaknya sebesar $548.000.000.000 pada tahun 2013…yaitu 11% dari total yang dihabiskan untuk kesehatan orang dewasa. Dan pada tahun 2035 diperkirakan angka tersebut mengalami lonjakan menjadi sebesar $627 Milyar.

Dimana diabetes tidak terdiagnosa, maka manfaat diagnosis dini dan pengobatan akan hilang. Dengan demikian, biaya yang terkait diabetes tidak terdiagnosa harus cukup. Satu studi di Amerika memaparkan bahwa diabetes yang tidak terdiagnosa bertanggung jawab menambah anggaran kesehatan sebesar $ 18 Milyar dalam kurun waktu satu tahun.

Ada perbedaan besar antardaerah atau negara. Hanya 20% dari biaya kesehatan global diabetes dibuat oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dimana 80% penduduknya menderita diabetes. Berbeda dengan negara berpenghasilan tinggi, estimasi tahun 2013, pengeluarnan Rata-ratanya adalah $5.621 per orang, kalau di negara berpenghasilan rendah dan menengah hanya $356.

Namun ketika masing-masing negara dibandingkan, maka kesenjangan akan terlihat sangat mencolok. Negara Norwegia menghabiskan rata-rata $10.368 pada diabetes per orang yang terkena diabetes. Sedangkan negara-negara seperti somalia dan Eritrea hanya menghabiskan kurang dari $30.

Dengan begitu secara tidak sadar penyakit diabetes menjadi beban berat di tiap-tiap negara, keluarga dan individu. Oleh karena itu, mari kita menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakti diabetes karena efeknya bukan hanya kita yang menderita melainkan orang disekeliling kita juga akan menderita jika kita terkena penyakit diabetes.