January 17, 2016

Perubahan Pola Makan Bisa Memicu Penyakit Diabetes



Kita ketahui bahwa Indonesia sangat kaya akan ragam hayatinya. Ada banyak bahan makanan yang dapat diolah menjadi makanan yang lezat untuk disantap. Setiap daerah pasti memiliki makanan khas mereka. Dengan cita rasa yang berbeda-beda tentunya. Hal ini sangat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun internasional.


Mungkin bagi kita yang berada di kawasan pulau jawa hanya mengenal padi sebagai bahan utama makanan kita. Olahan makanannya pun berkutat pada padi-padian saja. Berbeda dengan daerah lain yang jarang mengonsumsi beras. Karena memang daerah mereka subur akan umbi-umbian.

Ada sebagian masyarakat di Indonesia yang mengonsumsi umbi-umbian. Masyakarat di kepulauan Tanimbar dan Kei, Provinsi Maluku adalah pemakan umbi-umbian. Namun beranjak beberapa waktu sekarang, kaum mudanya berpindah atau beralih memakan beras. Tentu perubahan ini bisa mengganggu kesehatan mereka.


“Masyarakat Indonesia memiliki DNA mitokondria yang punya kadar basa T16189C dengan nilai prosentase di atas 30%-40%. Bahkan di daerah Nias memiliki angka 60%, dan menjadi daerah tertinggi yang memiliki DNA mitokondria,” ujar Herawati Sudoyo, Ahli Genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

“Dari Studi kami, msyarakat alor punya presentase yang rendah yaitu 10, dan diikuti dari daerah sumba yaitu 20%. Hasil studi genetika pada populasi Alor, rupanya mereka memiliki 95% gen Papua. Sebaliknya, pada masyarakat Indonesia lain, gen papua amat kecil, dibawah 5%. Masyarakat dengan gen papua yang sangat kecil memiliki DNA mitokondria dengan basa T16189C tinggi,” ujarnya.

Lalu apa hubungannya dengan diabetes? Yang perlu kita ketahui, bahwa gen tersebut dapat memicu timbulnya penyakit diabetes mellitus. Dan jika sudah terkena penyakit ini maka penanganannya akan sulit dan butuh waktu yang panjang.

Herawati dan tim peneliti dari Lembaga Eijkman meneliti genetika masyarakat di Kepulauan Kei. Riset yang mereka lakukan terkait asal-usul migrasi dan kerentanan terhadap penyakit tertentu.

Masalahnya data yang dimiliki oleh Eijkman mengenai genetika masyarakat di dekat pulau papua amat terbatas. Karena itu studi genetika yang dilakukan Eijkman di kepulauan Tanimbar dan kepulauan Kei punya signifikasi tinggi untuk mengisi kekosongan data tersebut.

“Kami belum tahu berapa besar persen gen Papua masyarakat Tanimbar dan Kei dan berapa kadar basa T16189Cnya. Dalam beberapa bulan kedepan hasil tersebut akan ketahuan setelah kami teliti dilaboratorium.” Kata herawati

Selain dipengaruhi oleh genetika, penyakit diabetes juga dipengaruhi oleh pola diet yang dilakukan masing-masing individu. Makanan yang mengandung padia-padian mengandung indeks glikemik yang lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan resiko terkena diabetes mellitus. Terutama bagi masyarakat yang memiliki DNA mitokondria T16189C yang tinggi.

“idealnya, masyarakat Nias tradisional masih mengonsumsi sagu dan tak beralih ke padi-padian. Dan sagu memiliki nilai indeks glikemik lebih rendah.” Tambahnya

Kecenderungan ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah mengenai ketahanan pangan yang bias ke beras. Bahkan di beberapa daerah ditemukan bahwa lahan mereka ditanami padi. Padahal mereka adalah masyarakat yang memakan umbi dan sagu. Daerah yang banyak diganti untuk menanam padi adalah Halmahera dan Merauke.

Dan Perubahan itu pun terjadi

Di daerah Tanimbar, tanaman padi tidak bisa tumbuh dikarenakan kondisi tanah dan iklimnya jelek. Namun untuk ditanami umbi-umbian malah subur.

Hasil serupa ditemukan di Kepulauan Kei. Mayoritas masyarakat disana menanam dan mengolah embal )singkong beracun), petatas, dan sagu sebagai bahan pangan utama. Padi hanyalah untuk selingat.

Jopi Tahanten, salah satu warga di Kepulauan Kei mengatakan bahwa tanaman padi tidak cocok ditanam didaerah ini. tanahnya tidak cocok. Berbeda jika ditanami dengan umbi-umbian. Oleh karena itu tanaman padi sangat jarang dijumpai.

Itu berlaku bagi warga yang berusia lanjut. Dimana mereka tidak merantau keluar daerah tersebut. berbeda dengan kaum muda mereka yang mereka merantau di daerah lain dan telah terbiasa mengonsumsi beras.

Hal ini akan berdampak pada obesitas. Mereka yang cenderung makan umbi-umbian dan kemudian beralih makan nasi, maka resiko obesitas akan jauh lebih tinggi. Dan kita tahu bahwa obesitas adalah pintu masuk untuk segala jenis penyakit seperti jantung, diabetes mellitus, dan ginjal.