February 25, 2016

Ada Yang Harus Diperhatikan Diabetesi Jika Ingin Minum Jamu


Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Minum Jamu
Hal Yang Harus Diperhatikan Diabetesi Jika Ingin Minum Jamu
Sumber Gambar : personallyacc.wordpress.com

Kalau kita mencari informasi bagaimana cara menghilangkan diabetes di internet, pasti kita akan disuguhi dengan banyaknya informasi yang ada. Namun, sejatinya kita sulit mengetahui manakah yang benar-benar bisa dipakai atau sebaliknya. Rekomendasi dari orang terdekat seperti keluarga, sahabat, ataupun rekan tempat kita bekerja lebih membuat kita nyaman. Dan hal itulah yang akhirnya membuat para diabetes untuk mencoba herbal dan meninggalkan obatnya.


Hal ini sangat disayangkan oleh Dr. dr Aris Wibudi, seorang dokter spesialis penyakit dalam. Menurutnya penggunaan herbal digunakan secara bijak tanpa harus benar-benar meninggalkan obat yang diberikan oleh dokter.

“Apapun yang hendak dikonsumsi oleh pasien silahkan, selama tetap kontrol rutin. Pertama, selalu cek gula darah, kedua bertemu dan berkonsultasi dengan dokter. Karena bagaimanapun juga mereka lebih ahli. Mereka adalah tenaga medis yang benar-benar mengetahui ilmunya dan bisa menentukan apa yang terbaik untuk pasien,” tutur dr Aris.

Dr Aris juga mengatakan bahwa setiap pasien diabetes hendaknya mempunyai alat pengukur sehingga dia bisa tahu apakah sudah balance atau tidak.

Tidak bisa berpatokan, bahwa saya sudah enakan terus menghentikan minum obat. Karena semua obat yang diberikan sudah sesuai dengan takaran. Yang terpenting adalah, tahu bagaimana mekanisme kerja suatu obat atau herbal.


“Selama kita mengetahui mekanisme kerja daripada herbal tersebut, maka itu tidak masalah. Karena setiap herbal mekanisme kerjanya berbeda. Jadi misalkan jika herbal A disatukan dengan obat A dimana kerjanya sama, maka efeknya tidak baik. Sebaiknya carilah obat yang berbeda fungsi.” Ujarnya.

Dr aris juga mengingatkan, bahwa antara dokter dengan herbali harus dapat bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Jangan berlawanan karena yang merasakannya si pasien itu juga. Karena keduanya memiliki ilmu masing-masing, maka juga harus tahu koridor atau batasan setiap ilmunya.

“Kalau herbalis tidak pernah belajar mengenai obat, maka jangan mengomentari dokter. Begitu juga dokter, kalau tidak pernah belajar herbal tidak perlu mengomentari herbal. Kalau kedua-duanya saling bekerja sama, maka si pasien menjadi tidak bingung,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa informasi mengenai kesehatan sudah selayaknya diberikan kepada pasien. “Kalau mau minum jamu silahkan, tapi jangan lebih dari 2 minggu. Kenapa? Karena gula darah akan cenderung naik dan itu tidak bagus. Dokter bukanlah penguasa dan pasien bukanlah bawahan sehingga dokter tidak menekankan harus begini begitu, tidak. Dokter hanya memberikan infomrasi, selebihnya adalah hak pasien untuk menentukan arah keberhasilan kesembuhannya,” pungkasnya.