January 27, 2016

Ternyata Penderita Diabetes Mudah Terserang Depresi


Penderita Diabetes Mudah Terserang Depresi
Penderita Diabetes Mudah Terserang Depresi
Sumber Gambar : www.ifantastis.com

Untuk penderita diabetes harap mewaspadai depresi yang sering timbul. Pasalnya, mereka yang memiliki penyakit gula darah ini rentan terhadap gangguan kesehatan jiwa ini.

Menurut dr Andri Sp. KJ, psikiater dari RS Omni Alam Sutera Tangerang, mengatakan walaupun diabetes tidak memiliki hubungan kausalitas, penyakit ini paling sering dihubungkan dengan depresi. Angka depresi yang dialami oleh para penderita diabetes mencapai sekitar 18-31%. Angka tersebut cukup banyak dibandingkan dengan penderita depresi pada populasi normal lainnya yang berkisar pada angka 11-15%.


Di Pekan Ilmiah Dokter 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) di Jakarta, dr Andri menjelaskan bahwa penyakit diabetes dapat mempengaruhi keseimbangan sistem monoamine di otak. Dimana sistem ini yang mengatur kerja neurotransmitter di otak yang bernama bopamin, serotonin dan norephinephrine.

Ketidakseimbangan antara serotonin dalam otak inilah yang dapat membuat pasien diabetes rentan terkena depresi. Hal ini cenderung terjadi pada pasien diabetes dengan tipe 1 karena tubuhnya tidak bisa lagi memproduksi insulin.

Baca Artikel Terkait : Mengapa Tubuh Memerlukan Insulin?

“Peluang pasien diabetes terkena depresi akan menjadi lebih besar. Namun, hal ini juga berhubungan dengan kondisi psikososial penderita,” katanya.

Jika kondisi mental pasien diabetes baik, maka kemungkinan terkena depresi akan kecil. Pasien yang sudah terkena diabetes sejak kecil atau usia anak-anak mungkin akan lebih kuat terhadap depresi karena  mereka sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Berbeda dengan orang dewasa yang terkena diabetes. Mereka akan rentan terkena depresi karena membutuhkan proses adaptasi yang lama.

Kenyataan bahwa harus mengonsumsi obat sepanjang hidup membuat sebagian pasien diabetes mengalami depresi. Padahal depresi yang dialami mereka dapat mempengaruhi  pengobatan yang dijalankan dan akan sulit juga mengubah pola hidupnya. Para pasien diabetes yang mengalami depresi cenderung tidak antusias untuk pengobatan, akibatnya kemajuan pengobatannya berjalan dengan lambat.

Dr Andri menyatakan bahwa pasien diabetes dapat memperoleh resep antidepresan. Penggunaan obat ini tidak berbahaya bagi penderita diabetes. Ada 2 teori yang menjelaskan bagaimana obat ini dapat bekerja di masing-masing pasien. Teori pertama, yaitu antidepresan akan membantu menekan depresi yang timbul pada pasien sehingga pasien dapat mengikuti proses pengobtan dan menjalani perbaikan gaya hidup.

Teori kedua, obat anti depresan membantu proses biologis orak dalam mengendalikan kadar HbA1c dalam darah. Dimana HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaski kimia antara glukosa dan hemoglobin. Kadar HbA1c ini sendiri dapat dijadikan sebagai bahan informasi terkait seberapa tingginya kadar glukosa dalam darah untuk jangka waktu tertentu.

Untuk pengobatan depresi juga harus diikuti dengan psikoterapi juga. Penggunaan psikoterapi dan psikofarmaka dapat meningkatkan kemungkinan pasien diabetes untuk bebas dari depresi sebesar 60-70%. Sementara penggunaan placebo hanya memberikan hasil sebesar 30% saja. Psikoterapi akan membantu memperbaiki pemahaman pasien dalam menerima kondisi yang ia derita.

“Psikiater tentunya harus tahu dulu bagaimana sejarah penyakit yang diderita oleh pasien. Tentu setiap pasien memiliki sejarah penyakit yang berbeda-beda. Selanjutnya, dapat dibicarakan bersama mengenai proses penyembuhan depresi,” imbuh dr Andri.

Banyaknya informasi yang beredar mengenai diabetes tidak jarang membuat para penderita merasa kebingungan. Misalnya, informasi pengobatan alternatif yang menjanjikan kesembuhan  atau efek merugikan bisa mengonsumsi antidepresan.


“info seperti itu kerap membuat bingung mereka dan akhirnya depresi. Padahal diabetes tidak mungkin bebas dari obat selama mereka mampu mengontrol pola hidupnya. Pada situasi seperti ini psikiater hendaknya berbicara kepada pasien dan lingkungan terdekatnya untuk menyamakan presepsi atau pemahaman,” tandas dr Andri yang menekankan pentingnya member dukungan dan penyampaian informasi yang benar kepada pasien.