September 22, 2015

Epidemiologi Diabetes Di Indonesia



Epidemiologi diabetes
Menurut survei yang dilakukan oleh WHO, Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, diperkirakan 2025 meningkat menjadi 12,4 juta penderita yang sebelumnya mencapai angka 4,5 juta di tahun 1995. Sedangkan data dari Depkes, jumlah pasien diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endoktrin. Mengingat besarnya masalah ini, akan dibentuk direktorat baru di Departemen Kesehatan untuk menangani penyakit tidak menular (PTM).


Menurut Menkes, secara global WHO memperkirakan PTM telah menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di seluruh dunia. Pada tahun 1992 lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita diabetes dan pada tahun 2000 jumlah it uterus meningkat hingga 150 juta yang merupakan 6% dari populasi penduduk dewasa. Di Amerika Serikat sendiri jumlah penderita diabetes mencapai 5,8 juta pada tahun 1980 dan meningkat drastic menjadi 13,8 juta orang pada tahun 2003.

Melihat permasalah ini, Menkes berkata bahwa masalah ini harus ditanggapi dengan serius. Jika tidak segera ditangani akan menjadi masalah yang akan sulit ditanggulangi nantinya. Upaya pencegahan dan penanggulangan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan harus menggerakkan semua lini termasuk organisasi profesi (PERKENI) dan organisasi kemasyarakatan (PERSADIA dan PEDI). Karena itu Menkes sangat mendukung kegiatan organisasi kemasyarakatan yang membantu pemerintah dalam mengatasi permasalah diabetes ini.

DR. Dr Sidhartawan Soegondo, Sp. PD KEMD, ketua PB PERKENI didalam keterangannya kepada wartawan menegaskan bahwa untuk mengurangi resiko kematian dan mengurangi biaya pengobatan diabetes, diperlukan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan secara primer maupun sekunder.

Pencegahan primer adalah pencegahan terjadinya diabetes mellitus pada individu yang berisiko melalui modifikasi gaya hidup (pola makan sesuai, aktivitas fisik, penurunan berat badan) dengan didukung program edukasi yang berkelanjutan. Kendati program ini tidak mudah, tetapi snagat menghemat biaya. Oleh kare itu dianjurkan untuk dilakukan di negara-negara dengan sumber daya terbatas.

Sedangkan untuk pencegahan sekunder, merupakan tindakan pencegahan terjadinya komplikasi akut maupun jangka panjang. Programnya meliputi pemeriksaan dan pengobatan tekanan darah, perawatan kaki diabetes, pemeriksaan mata secara rutin, pemeriksaan protein dalam urine, program menurunkan atau menghentikan kebiasaan merokok.

Di Indonesia program program pencegahan primer telah dilakukan oleh PT Merck Indonesia Tbk bekerja sama dengan Depkes RI dan organisasi profesi (PERKENI) dan organisasi kemasyarakatan (PERSADIA dan PEDI). Program yang bertajuk Pandu Diabetes dengan symbol Titik Oranye, melakukan kegiatan-kegiatan antara lain memberikan informasi dan edukasi mengenai diabetes mellitus dan pemeriksaan kadar gula darah secara gratis untuk sejuta penduduk yang telah diluncurkan oleh Menkes pada 15 Marert 2003.

Pemeriksaan kadar gula darah ke sejuta orang dilakukan terhadap Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari yang sekaligus menutup acara tersebut tanggal 3 September 2005. Program ini dipandang luar biasa karena member layanan pemeriksaan kadar gula darah secara gratis kepada sejuta orang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia selama 2 tahun (2003-2005). Oleh karena itu, kegiatan ini memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri. Penyerahan penghargaan dilakukan pendiri Museum Rekor Indonesia Jaya Suprana kepada Vice Presiden PT. Merck Indonesia Tbk., Koesdianto Setyabudi.

Hasil pemeriksaan kadar gula darah tersebut menunjukkan bahwa 81.969 orang (8,29%) memiliki kadar glukosa darah melebihi 200 mg/dl. Dan itu sudah dapat dikategorikan sebagai penderita diabetes. Kemudian sebanyak 260.361 orang (26,42%) memiliki kadar glukosa yang rendah (<110 mg/dl). Pada presentase lain yaitu 49,66% atau 489.385 orang memiliki kadar glukosa normal (110-139). Dan sebanyak 154.029 orang (15,63^) memiliki kadar glukosa darah Borderline (140-199 mg/dl).

Menurut Vice Presiden PT. Merck Indonesia Tbk., Koesdianto, banyaknya orang yang memiliki kadar gula darah terganggu ini memerlukan perhatian khusus dari pihak-pihak terabit. Karena kelompok ini berpeluang menjadi diabetes di masa yang akan darang.

Sementara itu, DR. Dr. Sidhartawan Soegondo, Sp. PD KEMD, ketua PB PERKENI menyatakan, sesuai dengan konsensus pengelolaan diabetes mellitus di Indonesia, diabetes mellitus ditetapkan pada pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu mencapai 200 mg/dl atau lebih pada pemeriksaan sewaktu atau kadar glukosa darah puasa mencapai 126 mg/dl.

Terdapat dua jenis penyakit diabetes mellitus, yaitu diabetes melltus tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus) yaitu kondisi defisiensi produksi insulin oleh pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin.

Diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh untuk berespon dengan wajar terhadap aktivitas insulin yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin), sehingga tidak tercapai kadar glukosa yang normal dalam darah. Diabetes mellitus tipe 2 ini lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia.

Berkaitan dengan hasil pemeriksaan kadar gula darah tersebut, DR. Dr. Sidhartawan menegaskan agar kelompok dengan kadar glukosa terganggu segera diintervensi. Intervensi yang disarankan PERKENI adalah menjalankan gaya hidup sehat (olahraga, diet yang baik, tidak merokok, dan apabila diperlukan dapat diberikan obat yang sesuai).